Sunday, August 12, 2012

Sebuah Cerpen: Terlalu

Bali, 25 May 2012.

Angin pantai yang bertiup cukup kencang dan desiran ombak yang begitu menenangkan menemani Melisa yang duduk termenung di ayunan kayu tepat di halaman belakang beach house yang ia tempati bersama teman-teman kuliah dan beberapa sepupunya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam tetapi Melisa sama sekali belum mengantuk. Well, mungkin ia sudah cukup mengantuk tapi beberapa hal yang tidak berhenti menghantui pikirannya membuat Melisa tidak bisa tidur sama sekali. Ira, sahabatnya sejak SMA, akan sedikit kesal jika ia tahu bahwa Melisa lagi-lagi terbangun oleh hal yang sama sejak beberapa minggu yang lalu.

“Mel,” Oh there she comes… “Lo belom tidur?” Tak lama kemudian, Ira duduk di sebelah Melisa dan menghela napas keras.

“Ngga bisa tidur, Ra.” Lagi-lagi Ira menghela napas begitu mendengar jawaban Melisa.

“Hmm let me guess… Pasti Aryo lagi, ya?” Pertanyaan Ira langsung membuat Melisa tertunduk. Ia menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Tentu saja Ira tahu bahwa Aryo dalang dari semuanya. Aryo lah penyebab Melisa kurang tidur dan mimpi buruk yang terus menerus mendatangi Melisa selama beberapa minggu ke belakang. Bukan hanya itu, Aryo juga yang menyebabkan Melisa lebih pemurung dan pendiam.

Sejak Aryo ‘menghilang’, hari-hari Melisa terasa lebih mendung. Yang ia lakukan setelah pulang kuliah hanyalah diam di kamar sambil memainkan blackberry-nya atau diam di depan TV sambil makan ice cream dan tissue bertebaran di sekelilingnya.

“Udahlah, Mel. Jangan dipikirin lagi. Orang kayak gitu sama sekali ngga pantes buat lo pikirin. Move on lah, Mel,” ucap Ira dengan pelan sambil memperhatikan figure Melisa yang masih menunduk.

“Ah, andaikan move on segampang itu, Ra…” Melisa mendongak dan hanya bisa tertawa hambar begitu mendengar perkataan sahabatnya itu. Entah sudah berapa kali Ira mengatakan hal yang sama pada Melisa tapi tetap saja Melisa belum ingin berubah. Ia masih stuck di tempat yang sama, stuck di tempat yang gelap dan penuh oleh kenangan-kenangan yang tidak ada henti menghantui dirinya.


Bandung, 18 Maret 2012.

“Mel!! Awas!!!” Begitu mendengar namanya dipanggil, Melisa langsung membalikkan badannya dan BUK! Sebuah bola mendarat tepat di wajahnya. Seketika itu juga wajahnya langsung terasa sakit dan kepalanya pusing, “Mel? Lo gapapa, kan?” terdengar suara Ira yang semakin mendekat.

“Hm, lumayan, Ra. Langsung puyeng gini kepala gue.” Sebelum bisa berkata apa-apa lagi, Melisa merasa ada seseorang selain Ira yang membantunya berjalan menuju bangku terdekat dan membantunya duduk, seakan-akan jika mereka melepaskan Melisa, ia akan langsung jatuh dan pingsan.

Melisa masih belum bisa menyadari apa yang terjadi saat itu. Ia sedang mengecek binder tebalnya untuk memastikan bahwa ia tidak meninggalkan apapun di ruang workshop tapi begitu sedang berjalan di sekitar lapangan bola, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya dan sedetik kemudian sebuah bola langsung mendarat di wajahnya.

“Tadi siapa sih yang nendang bola sekencang itu sampe bisa kena muka gue?!” tanya Melisa dengan sewot sambil mengusap-ngusap wajahnya yang terasa panas dan sedikit perih.

“Itu si Aryo, Mel,” jawab Rendra, pacar Ira. Melisa langsung mengkerutkan dahinya begitu mendengar nama Aryo. Oh… ternyata si Aryo, toh. Pantesan kencang banget, batin Melisa dalam hati, “Tau Aryo, kan?” tanya Rendra.

“Ya, taulah, Ren. Dulu kan si Melisa pernah suka.” Refleks, Melisa langsung menginjak kaki Ira dengan kencang, “Aw! Sakit, dodol!”

“Hah? Apa? Pernah suka? Cieeee,” sambar Rendra sambil tertawa yang langsung membuat Melisa kesal seketika.

“Duh, udah deh, ya, yang lalu ngga usah dibahas. Emang sih dulu pernah suka, tapi udahlah, itu kan dulu. Ngga usah dibahas lagi lah…” Melisa menghela napas keras dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia memang dulu pernah suka dengan Aryo, tapi itu dulu. Semua itu terjadi sebelum Melisa mengetahui bahwa Aryo sudah punya pacar dan sebelum Mario hadir.

Speaking of the devil… Itu orangnya nyamperin,” bisik Ira dengan cukup keras yang tidak bisa langsung dicerna dengan Melisa. Melisa hanya mengerutkan dahinya dan menoleh ke belakang.

Benar saja apa yang dikatakan Ira beberapa detik yang lalu. Aryo berjalan dengan cukup cepat ke arahnya sambil membawa tas ransel abu-abunya dan kacamata yang biasa ia kenakan sehari-hari. Tanpa disadari, Melisa mulai merasa aneh. Jantungnya berdegup beberapa kali lebih cepat, tenggorokannya seketika kering, pipinya terasa panas, dan kepalanya terasa sedikit pusing. Ya Tuhan… Melisa, tenangin diri lo! Tarik napas dalem-dalem, Mel, batin Melisa sambil menarik napas perlahan dan menghembuskannya lewat mulut.

“Uhhh, hi. Gue Aryo,” ucap Aryo dengan perlahan sambil menggaruk belakang lehernya dan tersenyum kecil.

“Melisa,” ucap Melisa dengan suara yang sedikit serak dan buru-buru ia berdeham.

“Gue tau kok,” Melisa langsung mengkerutkan dahinya lagi. Sejak kapan Aryo tahu namanya? Melisa tahu pasti bahwa selama ini Aryo tidak pernah mengenal dirinya. Meliriknya sedikit saja tidak pernah, apalagi tahu namanya?, “Eh itu… Tadi… Maaf ya. Gue sama sekali ngga nyangka tendangannya bakal sekencang itu sampe bisa kena muka lo segala.” Aryo menjelaskan dengan raut wajah yang cukup serius, seakan-akan ia benar-benar merasa bersalah karena telah menendang bola itu terlalu kencang.

“Uh, iya, ngga apa-apa kok. Santai aja,” Melisa tersenyum miris lalu tertawa hambar. Duh, Mel, jelas-jelas lo itu jelas ngga gapapa. Muka perih gini masih bisa bilang gapapa. Ya ampun, batin Melisa lagi dalam hati dan seketika ingin rasanya ia menghilang dari permukaan bumi ini karena malu.

“Makanya, bro, lain kali kalo nendang bola jangan pake emosi. Santai aja lah,” sambar Rendra sambil tertawa kecil dan Melisa melihat seulas senyum kecil mengembang di wajah Aryo.

“Iya, iya. Kejadian kayak tadi jelas-jelas ngga akan kejadian lagi, lah. Tenang aja.” Aryo tertawa kecil dan melirik Melisa yang sedang mengusap-usap dahinya yang terus berkeringat, “Hm, gue duluan ya. Harus ke toko buku dulu sebentar, ngambil titipan kakak. Dah…” Aryo tersenyum lagi dan melambai pada Melisa, Rendra, dan Ira sebelum akhirnya berjalan menjauh ke tempat parkir.

Setelah Aryo menjauh, Melisa menghela napas keras dan menggaruk lengannya yang sama sekali tidak terasa gatal, “Mel, lo harus tau kalo tadi muka lo sempat merah dan pucat.” Melisa langsung kaget begitu mendengar perkataan Ira.

“Seriusan, Ra?” Ira hanya mengangguk dan Rendra malah tertawa, “Eh, malah ketawa lagi! Udah sana! Hus hus hus! Bukannya jam 11 ada kelas, ya? Sekarang udah jam 11 kurang 10 menit juga.”

“Oh iya! Ya ampun! Dah, Ira!” Rendra mengacak-acak rambut Ira terlebih dahulu sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam gedung.

Melisa terdiam lagi begitu Rendra sudah pergi. Ia langsung terjebak dalam pikirannya yang sudah semrawut. Dan kehadiran Aryo selama beberapa menit itu juga membuat pikirannya tambah semrawut. Sudah 3 bulan lebih ia tidak memikirkan Aryo lagi, bahkan melihatnya di daerah kampus pun jarang, tapi kali ini tiba-tiba Aryo memasuki pikirannya lagi, membuat hatinya berdegup lebih kencang hanya dengan memikirkannya saja, membuat pipinya bersemu merah hanya dengan mengingat senyum kecil yang tadi diberikan Aryo kepadanya.

“Mel, inget Mario,” ucap Ira dan langsung membuat Melisa untuk menunduk dan malu pada dirinya sendiri. Mario. Tentu saja Melisa mengingat Mario. Laki-laki yang ia temui di awal semester ini, laki-laki yang bisa membuat perasaannya tidak karuan, laki-laki yang bisa membuatnya semangat dan tersenyum lagi di tengah-tengah harinya yang kacau, laki-laki yang bisa mengubur perasaannya untuk Aryo jauh dalam-dalam di tempat paling bawah di hatinya selama beberapa bulan sampai hari ini.

Tapi kali ini, untuk beberapa saat saja, Melisa tidak ingat Mario sama sekali. Nama ‘Mario’ pun tidak terbesit sama sekali di hati dan pikirannya begitu ia melihat wajah Aryo dan senyum yang mengembang di wajahnya.  Bahkan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nama ‘Aryo’ lah yang membuatnya tersenyum, bukan Mario.


Bali, 29 May 2012.

But you didn’t have to cut me off. Make out like it never happened and that we were nothing. And I don’t even need your love. But you treat me like a stranger and that feels so rough…” Melisa mematikan iPodnya dan menghela napas keras-keras. Ia sudah tidak kuat mendengarkan lagu itu lagi. Liriknya terlalu menyakitkan bagi dirinya. Dulu ia hanya tertawa begitu kakaknya, Miko, mendengarkan lagu tersebut dengan raut wajah yang cukup menyedihkan. Tapi sekarang, hal itu yang justru terjadi pada Melisa sendiri.

Melisa bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela besar yang langsung menghadap ke pantai. Terlihat Ira, Rendra, Miko, dan 2 sepupunya sedang bermain voli pasir dan tertawa-tawa riang… dan hanya Melisa yang tidak ada disana. Ia tahu mengapa tidak ada yang membangunkannya sama sekali dan mengajaknya untuk bergabung. Mereka semua tahu bahwa Melisa merasa tidak enak badan dari kemarin siang dan hanya diam dan istirahat di rumah.

“Melisaaaa!!! Bangun!!!” Terdengar teriakan Miko dari luar. Melisa membuka jendela besar yang sekaligus berfungsi sebagai pintu itu—dan berjalan menghampiri Miko yang menunggunya di pantai, “Tumben banget jam segini baru bangun. Biasanya lo suka bangun paling pagi,” ucap Miko begitu Melisa datang menghampirinya dan duduk bersama Ira di atas pasir.

“Semalem tidur sekitar jam 11an dan itu pun masih kebangun sampe tengah malem. Belum lagi hidung yang ngga berenti meler. Yaaa harap maklum lah.” Melisa tertawa kecil dan Miko hanya menghela napas.

“Eh, hari ini kita mau ke Waterbom, loh. Mau ikut ga?” tanya Ira sambil menguncir rambut panjangnya yang sudah mulai lepek.

“Ikut!!! Kalian gila, ya, mau ninggalin gue ke Waterbom gitu aja?!” sambar Melisa sambil sewot.

“Kan kemaren bilang lagi ngga enak badan, ya udah, mending istirahat aja di rumah,” timpal Rendra sambil mengambil bola voli yang terjatuh tidak jauh dari tempatnya duduk.

“Udah, udah. Sana, gih, maen voli lagi!” ucap Melisa sambil setengah mengusir Miko dan Rendra yang tidak ada henti menganggunya. Miko dan Rendra hanya tertawa dan melanjutkan permainan voli mereka yang sempat tertunda.

“Gue semalem mimpiin Aryo lagi, Ra,” Melisa mengambil segenggam pasir dan memperhatikannya jatuh melalui sela-sela jarinya, “Di mimpi itu, gue, lo, Rendra, sama Aryo lagi nonton pertandingan basket antar-fakultas, trus tiba-tiba gue sakit perut gitu. Ternyata pas di cek, bekas jahitan operasi usus buntu gue kebuka lagi dan banyak darah gitu, trus tiba-tiba kita semua udah ada di rumah sakit gitu dan tiba-tiba Aryo ngilang gitu aja. Hm, pertanda apa, ya, Ra?”

“Penyebab lo mimpi kayak gitu adalah karena kemaren siang kita lagi ngomongin pertandingan basket Miko bulan lalu dan pas malemnya lo ngomongin Aryo. Makanya dia mampir ke mimpi lo tadi malem.” Jawaban Ira memang benar. Kemarin siang, kedua sahabat itu dan 1 sepupu Melisa menghabiskan waktu di rumah dan mengobrol tentang beberapa hal, termasuk tentang pertandingan basket Miko, “Eh, Mario apa kabar, Mel?”

Pertanyaan Ira langsung membuat Melisa tertegun. Apa kabar Mario? Sudah lama ia tidak menghubungi laki-laki itu… atau lebih tepatnya, sudah lama laki-laki itu tidak menghubungi Melisa. Terakhir kali Melisa melihat Mario adalah hari terakhir kuliah dan terakhir kali ia dihubungi Mario adalah 1 minggu yang lalu. Ya, benar, 1 minggu yang lalu.

“Ngga tau, Ra,” jawab Melisa dengan pelan, “Terakhir kali dia nge-contact gue itu 1 minggu yang lalu, pas dia ‘tanya’ pertanyaan itu, Ra. Setelah itu, gue ngga pernah denger apapun dari dia lagi. Terakhir kali itu, ada yang bilang ke gue kalo dia galau, Ra. Ya ampun, gue jahat, ya? Udah ngebuat anak orang jadi galau gitu.”

“Bukan salah lo juga, Mel. Kalo waktu itu lo jawab ‘iya’, lo bakal lebih ngerasa bersalah lagi, Mel. Mending ngerasa bersalah sekarang daripada lo jawab ‘iya’ dan ngga sepenuhnya bahagia dan mikirin dia. Bayangin apa yang bakal dia rasain kalo dia tau ternyata lo masih mikirin Aryo pas kalian pacaran. Nah itu bakal ngebuat dia lebih sakit lagi, Mel. Mending dia sakitnya sekarang daripada nanti di akhir dan ada kemungkinan dia bakal benci sama lo,” ucap Ira panjang lebar dan langsung membuat Melisa merasa semakin tidak enak. Andai saja Aryo tidak pernah masuk ke dalam hidupnya, pasti ia tidak akan menyakiti perasaan Mario.


Bandung, 25 Maret 2012.

Melisa duduk bersila di tempat tidurnya sambil menonton DVD Revenge season 1 yang ia beli satu minggu lalu. Bungkus corn chips, botol minum, binder, dan kertas tugas berceceran berantakan di tempat tidurnya. Jika Mama berada disini, pasti Mama akan marah besar melihat kamar anak perempuannya itu berantakan. Tapi Melisa tidak sedang mengkhawatirkan hal itu. Melisa sedang mengkhawatirkan blackberry-nya yang belum berbunyi sama sekali sejak siang tadi. Bahkan sampai ia selesai mengerjakan tugasnya pun, smart phone itu masih juga belum berbunyi. Walaupun ia sudah mengalihkan perhatiannya dengan menonton DVD, tetap saja perhatiannya terpusat pada smart phone yang masih bergeming itu.

Lo kemana sih? Kok sampe jam segini masih belum ngabarin juga?, batin Melisa sambil memeluk boneka Tazmania-nya yang besar itu. Entah takdir atau kebetulan, tapi beberapa menit setelah itu, ponselnya bergetar dan lagu Big Time Rush, Worlwide, melantun dengan cukup kencang. Melisa langsung menyambar ponselnya dan melihat layar, Aryo is calling. Tanpa basa-basi, Melisa langsung mengangkat telponnya, “Halo?”

“Hai, Mel. Maaf aku baru ngabarin lagi, dari tadi siang sibuk banget. Harus nyelesaiin tugas Pa Yono yang deadline-nya malam ini. Tapi sekarang semuanya udah beres kok,” ucap Aryo langsung membuat Melisa merasa tenang seketika. Mendengar Aryo berbicara panjang lebar sudah merupakan salah satu hobi nya yang baru. Ia bisa tahan mendengarkan Aryo berbicara panjang lebar tanpa merasa bosan sedikitpun. Justru, hal itu malah membuatnya merasa sedikit tenang.

“Iya, ngga apa-apa, kok. Santai aja lah, aku juga daritadi ngerjain tugas kok. Ini sekarang baru beres dan lagi santai.” Agak lucu bagaimana bahasa yang mereka gunakan terhadap satu sama lain sangat berbeda dari bahasa yang biasa mereka gunakan sehari-hari. Ketika mereka berbicara, bahasa yang digunakan lebih halus, nada yang digunakan lebih lembut, kata-kata yang dikeluarkan dari mulut masing-masing juga lebih dijaga. Melisa selalu berhati-hati agar tidak mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan, takut akan merusak semua hal yang telah ia miliki selama ini.

“Oh, bagus lah. Kamu lagi apa, Mel? Udah makan? Aku tadi baru makan jam 8-an, loh, padahal tadi pagi ngga sarapan sama sekali dan tadi siang juga makannya telat.” tanya Aryo yang langsung membuat hati Melisa berdegup 2 kali lebih cepat dari biasanya dan pipinya merah seketika. Pertanyaan yang dikeluarkan dari mulut Aryo memang sangat sederhana. Tapi hal-hal sederhana seperti itulah yang membuat Melisa merasa bahagia.

“Ini lagi nonton TV aja di kamar. Tadi udah makan kok, sekitar jam 8-an,” jawab Melisa, “Kok bisa sampe ngga sarapan gitu? Emangnya ngapain aja? Males-malesan terus sih, ya, dikasur sampe lupa sarapan gitu. Padahal biasanya kalo urusan makan kamu suka langsung jalan…”

“Kan tadi pagi pas bangun langsung sms-an sama kamu. Udah gitu kamu juga ngga ngingetin aku buat sarapan lagi, jadinya diem terus, deh, di kamar,” jawab Aryo sambil tertawa dan Melisa pun langsung ikut tertawa juga.

“Hiiiii malah nyalahin lagi. Dasar, aneh-aneh aja sih. Yang penting lain kali jangan sampe lupa sarapan lagi. Nanti kondisi nge-drop trus sakit trus bolos kuliah. Jangan sampe lah, ya. Trus minum vitamin juga, ya. Sekarang lagi musim penyakit gini… Oh iya! Istirahat juga yang cukup,” jelas Melisa panjang lebar sambil memainkan boneka Tazmania-nya.

“Iya, Mba… Mulai, deh, bawelnya keluar lagi,” timpal Aryo yang langsung membuat pipi Melisa bersemu merah, “Kalo bawel itu, tandanya perhatian. Berarti kamu perhatian sama aku…”

“Ah, kata siapa? Kakak aku malah suka marah kalo aku bawel ngga jelas,”

“Justru bawel itu tanda orang perhatian…” tambah Aryo dengan santai, “Makasih, ya, kamu udah perhatian sama aku.” Pipi Melisa langsung memerah lagi, “Pasti pipinya langsung merah deh.”

“Ah, engga, biasa aja kok. Sok tau banget deh,” sergah Melisa, pipinya masih memerah. Lalu mereka berdua berhenti berbicara selama beberapa saat. Mereka hanya mendengarkan suara bernafas masing-masing. Bahkan kesunyian seperti itu membuat mereka nyaman terhadap diri masing-masing. Sebenarnya, Melisa tidak pernah menyukai ‘kesunyian’ saat berbicara dengan seseorang dalam telpon, tapi kali ini, entah kenapa hanya dengan mendengarkan suara napas Aryo, dirinya sudah merasa senang dan nyaman.

“Mel, aku boleh jujur sama kamu?” tanya Aryo secara tiba-tiba dan Melisa hanya terdiam. Diam tersebut diartikan Aryo sebagai ‘iya’, “Aku kangen sama kamu.” Kata-kata tersebut meluncur dengan mudahnya dari mulut Aryo dan hanya dengan 3 kata yang sederhana itu, jantung Melisa langsung berdegup sangat cepat dan ia merasa kebas. Jemarinya langsung bergetar dan napasnya tercekat. Tidak pernah ia mendengarkan seseorang mengatakan kata-kata itu kepadanya secara langsung.  Aryo lah yang pertama kali mengatakannya dan Melisa merasa sangat senang, seakan-akan ia langsung terbang ke langit ke-7.

“Aku kangen denger suara kamu, Mel.” Lagi-lagi, Melisa seakan terbang tinggi jauh ke angkasa. Dan Aryo lah yang membawanya terbang tinggi. Melisa tau akan resiko dari melakukan hal ini bersama Aryo. Ia tahu bahwa ada resiko hatinya akan hancur remuk oleh Aryo, tapi hal itu tidak mengapa baginya.

“Kok bisa, Yo?” tanya Melisa dengan suara yang pelan dan tercekat.

Bukannya menjawab pertanyaan Melisa, Aryo justru berkata, “Jauh lebih tepatnya, tapi kalo kangen berarti sayang juga… Aku kangen sekaligus sayang juga sama kamu.” Kalimat yang diucapkan Aryo itu langsung membuat Melisa lemas seketika. Melisa tahu tidak pernah ada orang yang mengatakan ‘sayang’ padanya sebelum Aryo. Dan dengan kalimat itu, Melisa merasa seakan-akan terbang, pipinya memerah lagi, jantung berdegup kencang tidak karuan, dan air mata mulai memenuhi matanya. Dengan itu, Melisa baru menyadari bahwa ia sedang merasakan satu hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia sedang jatuh cinta. Ia jatuh cinta pada Aryo. Aryo Permana. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga menyadari bahwa ia jatuh cinta pada orang yang salah. Ia tidak seharusnya jatuh cinta pada Aryo, karena hal ini sangat salah. Sangat salah sampai Melisa pun tidak bisa melakukan apa-apa dan membiarkan dirinya sendiri berjalan di jalan yang salah.


Bandung, 5 Juni 2012.

Sinar matahari yang begitu terang menyorot menembus tirai kamar Melisa yang sedikit terbuka. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan yang menonjol di rumah Melisa. Kedua orang tua Melisa sedang pergi ke Jakarta dan baru akan kembali 2 hari yang akan datang. Dan hal itu membuat Melisa dan Miko yang baru sampai dari Bali malam sebelumnya semakin malas untuk bangun.

Dering ponsel Ira yang berbunyi cukup kencang membuat Melisa terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia membuka matanya perlahan dan melirik Ira yang tertidur dengan sangat pulas di sebelahnya. Sahabatnya yang satu ini memang ‘kebo’. Walaupun ponselnya berbunyi, Ira tetap saja tidak bangun dan tetap tertidur lelap.

Begitu dering ponsel berhenti, Melisa menghela napas keras dan bangun dari tempat tidurnya. Tanpa membereskan tempat tidurnya, Melisa berjalan keluar dari kamar menuju dapur. Ia membuka salah satu rak dan mengambil sebotol susu coklat yang selalu tersedia di rak tersebut. Setelah itu, ia berjalan ke halaman belakang dan duduk bersandar di tembok, menutup matanya perlahan dan menikmati angin sejuk yang berhembus di sekelilingnya.

Berbagai macam hal yang telah ia simpan dengan begitu rapi di dalam hatinya yang paling dalam dan belum pernah ia pikirkan kembali selama beberapa hari terakhir ini perlahan-lahan mulai bermunculan di otak Melisa. Ia memikirkan tentang Mario dan Aryo.

Tentang Mario… sepertinya semua sudah terlambat. Melisa tidak pernah mendapat kabar tentang lelaki itu setelah pertemuan terakhir mereka beberapa minggu lagi dan dengan itu, Melisa mulai berhenti memikirkan lelaki itu secara perlahan-lahan walaupun nampaknya ia belum sepenuhnya berhasil karena Mario kerap melintasi otak Melisa secara tiba-tiba dalam beberapa waktu terakhir ini.

Tentang Aryo… Ia masih tidak mengerti dan bingung. Aryo bisa dengan begitu mudahnya menarik simpati dan perhatian Melisa. Dengan Aryo, terkadang semuanya bisa begitu mudah dan sulit secara bersamaan. Perasaan tidak enak selalu saja muncul dibenak Melisa setiap kali ia sedang mengobrol dengan Aryo. Melisa tahu betul ia melakukan hal yang salah dengan membiarkan Aryo masuk ke hidupnya, memenuhi pikirannya, membuatnya khawatir begitu ia tiba-tiba tidak membalas pesan singkatnya, membuatnya tertawa begitu lepas setiap kali mereka membicarakan tentang hal konyol yang terjadi di masa lalu, membuatnya menceritakan setiap hal yang tidak berani ia ceritakan pada Miko, membuat dirinya merasa begitu diperhatikan, dan Aryo bisa membuatnya merasakan hal yang belum pernah Melisa rasakan begitu kuat sebelumnya. Ia membuat Melisa jatuh cinta. Semua lagu cinta kacangan yang selama ini selalu Melisa anggap aneh terasa begitu nyata.

Tapi setelah tiba-tiba ‘menghilang’ tanpa mengucapkan satu katapun yang berujung ke perpisahan, Melisa mulai merasakan semua ini hanya kebohongan belaka. Setelah dibuat terbang begitu tinggi oleh Aryo, ia langsung terjatuh. Dan rasanya begitu sakit. Sangat sakit malah. Dan semua lagu tentang patah hati yang selama ini selalu Melisa abaikan terasa begitu nyata. Ingin rasanya Melisa menangis ketika mendengar lagu-lagu patah hati melantun secara tidak sengaja dari iPodnya. Tapi ia tidak bisa membuat dirinya men­-skip lagu itu. Ia membiarkan lagu itu melantun dengan pelan dan meresap jauh ke dalam hatinya yang sedang begitu sakit dan hancur. Lirik-lirik yang selama ini tidak pernah Melisa mengerti, tiba-tiba langsung dimengerti. Kini ia tahu seperti apa rasanya patah hati itu.

“Mel, udah bangun?” suara Ira membuat Melisa cukup terkejut. Ia menoleh dan melihat Miko berjalan menghampirinya lalu duduk di sebelahnya, “Lagi mikirin apa, sih? Kok muka lo serius banget?”

“Lagi mikirin banyak hal, Ra,” jawab Melisa dengan singkat dan Ira hanya menghela napas. Ira tahu bahwa cepat atau lambat Melisa pasti akan menceritakan apa yang ada di otaknya pada Ira.

“Aryo?” tebak Ira dan Melisa hanya tersenyum miris.

I’ve decided to just move on, Ra. Yah tentu aja gue tau pasti ngga akan gampang buat move on dari Aryo, tapi yang penting gue nyoba, kan? Lagipula gue juga sadar kalo gue ngga bisa terus-terusan nunggu hal yang sama sekali ngga pasti,” Melisa menarik napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya, “Selain itu, gue juga tahu kalo Aryo udah bahagia sama… Yah, lo tau lah siapa. Dan gue ngga akan ngerusak kebahagian dia, Ra. Gue ngga mau ngusik dia lagi. Mungkin dia juga udah lupa, kali, sama gue. Buktinya dia udah bahagia gitu—“

“Tapi, kan, dia duluan yang ngusik lo, Mel,” potong Ira.

“Iya, gue tau, Ra. Lagipula, gue juga salah, kok. Gue yang ngebiarin dia ngusik gue. Tapi biarin aja lah… Gue tau move on itu ngga segampang yang dikira orang, tapi gue juga ngga bisa lah terus-terusan kayak gini…” sambung Melisa sambil menatap ikan-ikan yang berenang di kolam.

Melisa menghela napas keras dan membiarkan kesunyian mengelilingi kedua sahabat itu. Ia tahu kalau Ira pasti sudah bosan mendengar Melisa berbicara terus-menerus tentang Aryo, tapi ia tidak tahu harus bicara pada siapa lagi tentang laki-laki itu. Ia tahu Ira bisa memberinya banyak nasihat tentang urusan laki-laki seperti ini.

Sometimes the person behind your smile is also the person behind your sadness.” Ucap Melisa secara tiba-tiba sambil tersenyum kecil.

“Ah, udah lah, jangan dipikirin lagi. Katanya tadi mau move on,” balas Ira sambil tertawa yang langsung membuat Melisa tersenyum lebar, “Mending kita sarapan dulu aja, yuk. Abis itu DVD marathon!”

“Sip!” Kedua sahabat itu bangun dari tempatnya dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah.

Bye-bye, Aryo. I promise I’ll try my best to not think about you anymore. I know you’re happy with somebody else and I’m not gonna ruin your happiness. Thank you for making my days so colorful and I’m glad I gotta know you even though I ended up getting hurt, batin Melisa sambil tersenyum kecil.

Yap, ia tidak menyesal pernah mengenal Aryo dan sempat dekat dengannya selama beberapa minggu. Aryo memang telah membuat hatinya sakit, tapi hal tersebut sama sekali tidak membuat Melisa menyesal. Mungkin hal ini harus dijadikan pelajaran agar nantinya tidak terjadi hal yang sama untuk kedua kalinya.

(THE END)

Related Quote: “The person behind your unexplained happiness is also the person behind your sadness.”

No comments:

Post a Comment