Angin
pantai yang bertiup cukup kencang dan desiran ombak yang begitu menenangkan
menemani Melisa yang duduk termenung di ayunan kayu tepat di halaman belakang beach house yang ia tempati bersama
teman-teman kuliah dan beberapa sepupunya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10
malam tetapi Melisa sama sekali belum mengantuk. Well, mungkin ia sudah cukup mengantuk tapi beberapa hal yang tidak
berhenti menghantui pikirannya membuat Melisa tidak bisa tidur sama sekali. Ira,
sahabatnya sejak SMA, akan sedikit kesal jika ia tahu bahwa Melisa lagi-lagi
terbangun oleh hal yang sama sejak beberapa minggu yang lalu.
“Mel,” Oh there she comes… “Lo belom tidur?”
Tak lama kemudian, Ira duduk di sebelah Melisa dan menghela napas keras.
“Ngga bisa
tidur, Ra.” Lagi-lagi Ira menghela napas begitu mendengar jawaban Melisa.
“Hmm let me guess… Pasti Aryo lagi, ya?”
Pertanyaan Ira langsung membuat Melisa tertunduk. Ia menghela napas dan
menganggukkan kepalanya. Tentu saja Ira tahu bahwa Aryo dalang dari semuanya.
Aryo lah penyebab Melisa kurang tidur dan mimpi buruk yang terus menerus
mendatangi Melisa selama beberapa minggu ke belakang. Bukan hanya itu, Aryo
juga yang menyebabkan Melisa lebih pemurung dan pendiam.
Sejak Aryo
‘menghilang’, hari-hari Melisa terasa lebih mendung. Yang ia lakukan setelah
pulang kuliah hanyalah diam di kamar sambil memainkan blackberry-nya atau diam di depan TV sambil makan ice cream dan tissue bertebaran di
sekelilingnya.
“Udahlah,
Mel. Jangan dipikirin lagi. Orang kayak gitu sama sekali ngga pantes buat lo
pikirin. Move on lah, Mel,” ucap Ira
dengan pelan sambil memperhatikan figure Melisa yang masih menunduk.
“Ah,
andaikan move on segampang itu, Ra…” Melisa mendongak dan hanya bisa tertawa
hambar begitu mendengar perkataan sahabatnya itu. Entah sudah berapa kali Ira
mengatakan hal yang sama pada Melisa tapi tetap saja Melisa belum ingin
berubah. Ia masih stuck di tempat
yang sama, stuck di tempat yang gelap dan penuh oleh kenangan-kenangan yang
tidak ada henti menghantui dirinya.
Bandung, 18 Maret 2012.
“Mel!!
Awas!!!” Begitu mendengar namanya dipanggil, Melisa langsung membalikkan
badannya dan BUK! Sebuah bola mendarat tepat di wajahnya. Seketika itu juga
wajahnya langsung terasa sakit dan kepalanya pusing, “Mel? Lo gapapa, kan?”
terdengar suara Ira yang semakin mendekat.
“Hm,
lumayan, Ra. Langsung puyeng gini kepala gue.” Sebelum bisa berkata apa-apa
lagi, Melisa merasa ada seseorang selain Ira yang membantunya berjalan menuju
bangku terdekat dan membantunya duduk, seakan-akan jika mereka melepaskan
Melisa, ia akan langsung jatuh dan pingsan.
Melisa
masih belum bisa menyadari apa yang terjadi saat itu. Ia sedang mengecek binder
tebalnya untuk memastikan bahwa ia tidak meninggalkan apapun di ruang workshop
tapi begitu sedang berjalan di sekitar lapangan bola, tiba-tiba ada seseorang
yang memanggil namanya dan sedetik kemudian sebuah bola langsung mendarat di
wajahnya.
“Tadi siapa
sih yang nendang bola sekencang itu sampe bisa kena muka gue?!” tanya Melisa
dengan sewot sambil mengusap-ngusap wajahnya yang terasa panas dan sedikit
perih.
“Itu si
Aryo, Mel,” jawab Rendra, pacar Ira. Melisa langsung mengkerutkan dahinya
begitu mendengar nama Aryo. Oh… ternyata
si Aryo, toh. Pantesan kencang banget, batin Melisa dalam hati, “Tau Aryo,
kan?” tanya Rendra.
“Ya,
taulah, Ren. Dulu kan si Melisa pernah suka.” Refleks, Melisa langsung
menginjak kaki Ira dengan kencang, “Aw! Sakit, dodol!”
“Hah? Apa?
Pernah suka? Cieeee,” sambar Rendra sambil tertawa yang langsung membuat Melisa
kesal seketika.
“Duh, udah
deh, ya, yang lalu ngga usah dibahas. Emang sih dulu pernah suka, tapi udahlah,
itu kan dulu. Ngga usah dibahas lagi lah…” Melisa menghela napas keras dan
menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia memang dulu pernah suka dengan Aryo,
tapi itu dulu. Semua itu terjadi sebelum Melisa mengetahui bahwa Aryo sudah
punya pacar dan sebelum Mario hadir.
“Speaking of the devil… Itu orangnya
nyamperin,” bisik Ira dengan cukup keras yang tidak bisa langsung dicerna
dengan Melisa. Melisa hanya mengerutkan dahinya dan menoleh ke belakang.
Benar saja
apa yang dikatakan Ira beberapa detik yang lalu. Aryo berjalan dengan cukup
cepat ke arahnya sambil membawa tas ransel abu-abunya dan kacamata yang biasa
ia kenakan sehari-hari. Tanpa disadari, Melisa mulai merasa aneh. Jantungnya
berdegup beberapa kali lebih cepat, tenggorokannya seketika kering, pipinya
terasa panas, dan kepalanya terasa sedikit pusing. Ya Tuhan… Melisa, tenangin diri lo! Tarik napas dalem-dalem, Mel, batin
Melisa sambil menarik napas perlahan dan menghembuskannya lewat mulut.
“Uhhh, hi.
Gue Aryo,” ucap Aryo dengan perlahan sambil menggaruk belakang lehernya dan
tersenyum kecil.
“Melisa,” ucap
Melisa dengan suara yang sedikit serak dan buru-buru ia berdeham.
“Gue tau
kok,” Melisa langsung mengkerutkan dahinya lagi. Sejak kapan Aryo tahu namanya?
Melisa tahu pasti bahwa selama ini Aryo tidak pernah mengenal dirinya.
Meliriknya sedikit saja tidak pernah, apalagi tahu namanya?, “Eh itu… Tadi…
Maaf ya. Gue sama sekali ngga nyangka tendangannya bakal sekencang itu sampe
bisa kena muka lo segala.” Aryo menjelaskan dengan raut wajah yang cukup
serius, seakan-akan ia benar-benar merasa bersalah karena telah menendang bola
itu terlalu kencang.
“Uh, iya,
ngga apa-apa kok. Santai aja,” Melisa tersenyum miris lalu tertawa hambar. Duh, Mel, jelas-jelas lo itu jelas ngga
gapapa. Muka perih gini masih bisa bilang gapapa. Ya ampun, batin Melisa
lagi dalam hati dan seketika ingin rasanya ia menghilang dari permukaan bumi
ini karena malu.
“Makanya, bro, lain kali kalo nendang bola jangan
pake emosi. Santai aja lah,” sambar Rendra sambil tertawa kecil dan Melisa
melihat seulas senyum kecil mengembang di wajah Aryo.
“Iya, iya. Kejadian
kayak tadi jelas-jelas ngga akan kejadian lagi, lah. Tenang aja.” Aryo tertawa
kecil dan melirik Melisa yang sedang mengusap-usap dahinya yang terus
berkeringat, “Hm, gue duluan ya. Harus ke toko buku dulu sebentar, ngambil
titipan kakak. Dah…” Aryo tersenyum lagi dan melambai pada Melisa, Rendra, dan
Ira sebelum akhirnya berjalan menjauh ke tempat parkir.
Setelah
Aryo menjauh, Melisa menghela napas keras dan menggaruk lengannya yang sama
sekali tidak terasa gatal, “Mel, lo harus tau kalo tadi muka lo sempat merah
dan pucat.” Melisa langsung kaget begitu mendengar perkataan Ira.
“Seriusan,
Ra?” Ira hanya mengangguk dan Rendra malah tertawa, “Eh, malah ketawa lagi!
Udah sana! Hus hus hus! Bukannya jam 11 ada kelas, ya? Sekarang udah jam 11
kurang 10 menit juga.”
“Oh iya! Ya
ampun! Dah, Ira!” Rendra mengacak-acak rambut Ira terlebih dahulu sebelum
akhirnya berlari masuk ke dalam gedung.
Melisa
terdiam lagi begitu Rendra sudah pergi. Ia langsung terjebak dalam pikirannya
yang sudah semrawut. Dan kehadiran Aryo selama beberapa menit itu juga membuat
pikirannya tambah semrawut. Sudah 3 bulan lebih ia tidak memikirkan Aryo lagi,
bahkan melihatnya di daerah kampus pun jarang, tapi kali ini tiba-tiba Aryo
memasuki pikirannya lagi, membuat hatinya berdegup lebih kencang hanya dengan
memikirkannya saja, membuat pipinya bersemu merah hanya dengan mengingat senyum
kecil yang tadi diberikan Aryo kepadanya.
“Mel, inget
Mario,” ucap Ira dan langsung membuat Melisa untuk menunduk dan malu pada
dirinya sendiri. Mario. Tentu saja Melisa mengingat Mario. Laki-laki yang ia
temui di awal semester ini, laki-laki yang bisa membuat perasaannya tidak
karuan, laki-laki yang bisa membuatnya semangat dan tersenyum lagi di tengah-tengah
harinya yang kacau, laki-laki yang bisa mengubur perasaannya untuk Aryo jauh
dalam-dalam di tempat paling bawah di hatinya selama beberapa bulan sampai hari
ini.
Tapi kali
ini, untuk beberapa saat saja, Melisa tidak ingat Mario sama sekali. Nama
‘Mario’ pun tidak terbesit sama sekali di hati dan pikirannya begitu ia melihat
wajah Aryo dan senyum yang mengembang di wajahnya. Bahkan untuk pertama kalinya setelah sekian
lama, nama ‘Aryo’ lah yang membuatnya tersenyum, bukan Mario.
Bali, 29 May 2012.
“But you didn’t have to cut me off. Make out
like it never happened and that we were nothing. And I don’t even need your
love. But you treat me like a stranger and that feels so rough…” Melisa
mematikan iPodnya dan menghela napas keras-keras. Ia sudah tidak kuat
mendengarkan lagu itu lagi. Liriknya terlalu menyakitkan bagi dirinya. Dulu ia
hanya tertawa begitu kakaknya, Miko, mendengarkan lagu tersebut dengan raut
wajah yang cukup menyedihkan. Tapi sekarang, hal itu yang justru terjadi pada
Melisa sendiri.
Melisa
bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela besar yang langsung
menghadap ke pantai. Terlihat Ira, Rendra, Miko, dan 2 sepupunya sedang bermain
voli pasir dan tertawa-tawa riang… dan hanya Melisa yang tidak ada disana. Ia
tahu mengapa tidak ada yang membangunkannya sama sekali dan mengajaknya untuk
bergabung. Mereka semua tahu bahwa Melisa merasa tidak enak badan dari kemarin
siang dan hanya diam dan istirahat di rumah.
“Melisaaaa!!!
Bangun!!!” Terdengar teriakan Miko dari luar. Melisa membuka jendela besar yang
sekaligus berfungsi sebagai pintu itu—dan berjalan menghampiri Miko yang
menunggunya di pantai, “Tumben banget jam segini baru bangun. Biasanya lo suka
bangun paling pagi,” ucap Miko begitu Melisa datang menghampirinya dan duduk bersama
Ira di atas pasir.
“Semalem
tidur sekitar jam 11an dan itu pun masih kebangun sampe tengah malem. Belum
lagi hidung yang ngga berenti meler. Yaaa harap maklum lah.” Melisa tertawa
kecil dan Miko hanya menghela napas.
“Eh, hari
ini kita mau ke Waterbom, loh. Mau ikut ga?” tanya Ira sambil menguncir rambut
panjangnya yang sudah mulai lepek.
“Ikut!!!
Kalian gila, ya, mau ninggalin gue ke Waterbom gitu aja?!” sambar Melisa sambil
sewot.
“Kan
kemaren bilang lagi ngga enak badan, ya udah, mending istirahat aja di rumah,”
timpal Rendra sambil mengambil bola voli yang terjatuh tidak jauh dari
tempatnya duduk.
“Udah,
udah. Sana, gih, maen voli lagi!” ucap Melisa sambil setengah mengusir Miko dan
Rendra yang tidak ada henti menganggunya. Miko dan Rendra hanya tertawa dan
melanjutkan permainan voli mereka yang sempat tertunda.
“Gue
semalem mimpiin Aryo lagi, Ra,” Melisa mengambil segenggam pasir dan
memperhatikannya jatuh melalui sela-sela jarinya, “Di mimpi itu, gue, lo,
Rendra, sama Aryo lagi nonton pertandingan basket antar-fakultas, trus
tiba-tiba gue sakit perut gitu. Ternyata pas di cek, bekas jahitan operasi usus
buntu gue kebuka lagi dan banyak darah gitu, trus tiba-tiba kita semua udah ada
di rumah sakit gitu dan tiba-tiba Aryo ngilang gitu aja. Hm, pertanda apa, ya,
Ra?”
“Penyebab
lo mimpi kayak gitu adalah karena kemaren siang kita lagi ngomongin
pertandingan basket Miko bulan lalu dan pas malemnya lo ngomongin Aryo. Makanya
dia mampir ke mimpi lo tadi malem.” Jawaban Ira memang benar. Kemarin siang,
kedua sahabat itu dan 1 sepupu Melisa menghabiskan waktu di rumah dan mengobrol
tentang beberapa hal, termasuk tentang pertandingan basket Miko, “Eh, Mario apa
kabar, Mel?”
Pertanyaan
Ira langsung membuat Melisa tertegun. Apa kabar Mario? Sudah lama ia tidak
menghubungi laki-laki itu… atau lebih tepatnya, sudah lama laki-laki itu tidak
menghubungi Melisa. Terakhir kali Melisa melihat Mario adalah hari terakhir
kuliah dan terakhir kali ia dihubungi Mario adalah 1 minggu yang lalu. Ya,
benar, 1 minggu yang lalu.
“Ngga tau,
Ra,” jawab Melisa dengan pelan, “Terakhir kali dia nge-contact gue itu 1 minggu yang lalu, pas dia ‘tanya’ pertanyaan itu,
Ra. Setelah itu, gue ngga pernah denger apapun dari dia lagi. Terakhir kali
itu, ada yang bilang ke gue kalo dia galau, Ra. Ya ampun, gue jahat, ya? Udah
ngebuat anak orang jadi galau gitu.”
“Bukan
salah lo juga, Mel. Kalo waktu itu lo jawab ‘iya’, lo bakal lebih ngerasa
bersalah lagi, Mel. Mending ngerasa bersalah sekarang daripada lo jawab ‘iya’
dan ngga sepenuhnya bahagia dan mikirin dia. Bayangin apa yang bakal dia rasain
kalo dia tau ternyata lo masih mikirin Aryo pas kalian pacaran. Nah itu bakal
ngebuat dia lebih sakit lagi, Mel. Mending dia sakitnya sekarang daripada nanti
di akhir dan ada kemungkinan dia bakal benci sama lo,” ucap Ira panjang lebar
dan langsung membuat Melisa merasa semakin tidak enak. Andai saja Aryo tidak
pernah masuk ke dalam hidupnya, pasti ia tidak akan menyakiti perasaan Mario.
Bandung, 25 Maret 2012.
Melisa
duduk bersila di tempat tidurnya sambil menonton DVD Revenge season 1 yang ia
beli satu minggu lalu. Bungkus corn
chips, botol minum, binder, dan kertas tugas berceceran berantakan di
tempat tidurnya. Jika Mama berada disini, pasti Mama akan marah besar melihat
kamar anak perempuannya itu berantakan. Tapi Melisa tidak sedang
mengkhawatirkan hal itu. Melisa sedang mengkhawatirkan blackberry-nya yang belum berbunyi sama sekali sejak siang tadi.
Bahkan sampai ia selesai mengerjakan tugasnya pun, smart phone itu masih juga belum berbunyi. Walaupun ia sudah
mengalihkan perhatiannya dengan menonton DVD, tetap saja perhatiannya terpusat
pada smart phone yang masih bergeming
itu.
Lo kemana sih? Kok sampe jam segini masih belum
ngabarin juga?, batin Melisa sambil memeluk boneka Tazmania-nya yang
besar itu. Entah takdir atau kebetulan, tapi beberapa menit setelah itu,
ponselnya bergetar dan lagu Big Time Rush, Worlwide, melantun dengan cukup
kencang. Melisa langsung menyambar ponselnya dan melihat layar, Aryo is calling. Tanpa basa-basi, Melisa
langsung mengangkat telponnya, “Halo?”
“Hai, Mel. Maaf
aku baru ngabarin lagi, dari tadi siang sibuk banget. Harus nyelesaiin tugas Pa
Yono yang deadline-nya malam ini. Tapi
sekarang semuanya udah beres kok,” ucap Aryo langsung membuat Melisa merasa
tenang seketika. Mendengar Aryo berbicara panjang lebar sudah merupakan salah
satu hobi nya yang baru. Ia bisa tahan mendengarkan Aryo berbicara panjang
lebar tanpa merasa bosan sedikitpun. Justru, hal itu malah membuatnya merasa
sedikit tenang.
“Iya, ngga
apa-apa, kok. Santai aja lah, aku juga daritadi ngerjain tugas kok. Ini
sekarang baru beres dan lagi santai.” Agak lucu bagaimana bahasa yang mereka
gunakan terhadap satu sama lain sangat berbeda dari bahasa yang biasa mereka
gunakan sehari-hari. Ketika mereka berbicara, bahasa yang digunakan lebih
halus, nada yang digunakan lebih lembut, kata-kata yang dikeluarkan dari mulut
masing-masing juga lebih dijaga. Melisa selalu berhati-hati agar tidak
mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan, takut akan merusak
semua hal yang telah ia miliki selama ini.
“Oh, bagus
lah. Kamu lagi apa, Mel? Udah makan? Aku tadi baru makan jam 8-an, loh, padahal
tadi pagi ngga sarapan sama sekali dan tadi siang juga makannya telat.” tanya
Aryo yang langsung membuat hati Melisa berdegup 2 kali lebih cepat dari
biasanya dan pipinya merah seketika. Pertanyaan yang dikeluarkan dari mulut
Aryo memang sangat sederhana. Tapi hal-hal sederhana seperti itulah yang
membuat Melisa merasa bahagia.
“Ini lagi
nonton TV aja di kamar. Tadi udah makan kok, sekitar jam 8-an,” jawab Melisa,
“Kok bisa sampe ngga sarapan gitu? Emangnya ngapain aja? Males-malesan terus
sih, ya, dikasur sampe lupa sarapan gitu. Padahal biasanya kalo urusan makan
kamu suka langsung jalan…”
“Kan tadi
pagi pas bangun langsung sms-an sama kamu. Udah gitu kamu juga ngga ngingetin
aku buat sarapan lagi, jadinya diem terus, deh, di kamar,” jawab Aryo sambil
tertawa dan Melisa pun langsung ikut tertawa juga.
“Hiiiii
malah nyalahin lagi. Dasar, aneh-aneh aja sih. Yang penting lain kali jangan
sampe lupa sarapan lagi. Nanti kondisi nge-drop trus sakit trus bolos kuliah.
Jangan sampe lah, ya. Trus minum vitamin juga, ya. Sekarang lagi musim penyakit
gini… Oh iya! Istirahat juga yang cukup,” jelas Melisa panjang lebar sambil
memainkan boneka Tazmania-nya.
“Iya, Mba… Mulai,
deh, bawelnya keluar lagi,” timpal Aryo yang langsung membuat pipi Melisa
bersemu merah, “Kalo bawel itu, tandanya perhatian. Berarti kamu perhatian sama
aku…”
“Ah, kata
siapa? Kakak aku malah suka marah kalo aku bawel ngga jelas,”
“Justru
bawel itu tanda orang perhatian…” tambah Aryo dengan santai, “Makasih, ya, kamu
udah perhatian sama aku.” Pipi Melisa langsung memerah lagi, “Pasti pipinya
langsung merah deh.”
“Ah, engga,
biasa aja kok. Sok tau banget deh,” sergah Melisa, pipinya masih memerah. Lalu
mereka berdua berhenti berbicara selama beberapa saat. Mereka hanya
mendengarkan suara bernafas masing-masing. Bahkan kesunyian seperti itu membuat
mereka nyaman terhadap diri masing-masing. Sebenarnya, Melisa tidak pernah
menyukai ‘kesunyian’ saat berbicara dengan seseorang dalam telpon, tapi kali
ini, entah kenapa hanya dengan mendengarkan suara napas Aryo, dirinya sudah
merasa senang dan nyaman.
“Mel, aku
boleh jujur sama kamu?” tanya Aryo secara tiba-tiba dan Melisa hanya terdiam.
Diam tersebut diartikan Aryo sebagai ‘iya’, “Aku kangen sama kamu.” Kata-kata
tersebut meluncur dengan mudahnya dari mulut Aryo dan hanya dengan 3 kata yang
sederhana itu, jantung Melisa langsung berdegup sangat cepat dan ia merasa
kebas. Jemarinya langsung bergetar dan napasnya tercekat. Tidak pernah ia
mendengarkan seseorang mengatakan kata-kata itu kepadanya secara langsung. Aryo lah yang pertama kali mengatakannya dan
Melisa merasa sangat senang, seakan-akan ia langsung terbang ke langit ke-7.
“Aku kangen
denger suara kamu, Mel.” Lagi-lagi, Melisa seakan terbang tinggi jauh ke angkasa.
Dan Aryo lah yang membawanya terbang tinggi. Melisa tau akan resiko dari
melakukan hal ini bersama Aryo. Ia tahu bahwa ada resiko hatinya akan hancur remuk
oleh Aryo, tapi hal itu tidak mengapa baginya.
“Kok bisa,
Yo?” tanya Melisa dengan suara yang pelan dan tercekat.
Bukannya
menjawab pertanyaan Melisa, Aryo justru berkata, “Jauh lebih tepatnya, tapi
kalo kangen berarti sayang juga… Aku kangen sekaligus sayang juga sama kamu.” Kalimat
yang diucapkan Aryo itu langsung membuat Melisa lemas seketika. Melisa tahu
tidak pernah ada orang yang mengatakan ‘sayang’ padanya sebelum Aryo. Dan dengan
kalimat itu, Melisa merasa seakan-akan terbang, pipinya memerah lagi, jantung
berdegup kencang tidak karuan, dan air mata mulai memenuhi matanya. Dengan itu,
Melisa baru menyadari bahwa ia sedang merasakan satu hal yang belum pernah ia
rasakan sebelumnya.
Ia sedang
jatuh cinta. Ia jatuh cinta pada Aryo. Aryo Permana. Dan jauh di dalam lubuk
hatinya, ia juga menyadari bahwa ia jatuh cinta pada orang yang salah. Ia tidak
seharusnya jatuh cinta pada Aryo, karena hal ini sangat salah. Sangat salah
sampai Melisa pun tidak bisa melakukan apa-apa dan membiarkan dirinya sendiri
berjalan di jalan yang salah.
Bandung, 5 Juni 2012.
Sinar matahari
yang begitu terang menyorot menembus tirai kamar Melisa yang sedikit terbuka. Waktu
sudah menunjukkan pukul 9 pagi tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan yang
menonjol di rumah Melisa. Kedua orang tua Melisa sedang pergi ke Jakarta dan
baru akan kembali 2 hari yang akan datang. Dan hal itu membuat Melisa dan Miko
yang baru sampai dari Bali malam sebelumnya semakin malas untuk bangun.
Dering
ponsel Ira yang berbunyi cukup kencang membuat Melisa terbangun dari tidurnya
yang lelap. Ia membuka matanya perlahan dan melirik Ira yang tertidur dengan
sangat pulas di sebelahnya. Sahabatnya yang satu ini memang ‘kebo’. Walaupun
ponselnya berbunyi, Ira tetap saja tidak bangun dan tetap tertidur lelap.
Begitu
dering ponsel berhenti, Melisa menghela napas keras dan bangun dari tempat
tidurnya. Tanpa membereskan tempat tidurnya, Melisa berjalan keluar dari kamar
menuju dapur. Ia membuka salah satu rak dan mengambil sebotol susu coklat yang
selalu tersedia di rak tersebut. Setelah itu, ia berjalan ke halaman belakang
dan duduk bersandar di tembok, menutup matanya perlahan dan menikmati angin
sejuk yang berhembus di sekelilingnya.
Berbagai
macam hal yang telah ia simpan dengan begitu rapi di dalam hatinya yang paling
dalam dan belum pernah ia pikirkan kembali selama beberapa hari terakhir ini
perlahan-lahan mulai bermunculan di otak Melisa. Ia memikirkan tentang Mario
dan Aryo.
Tentang
Mario… sepertinya semua sudah terlambat. Melisa tidak pernah mendapat kabar
tentang lelaki itu setelah pertemuan terakhir mereka beberapa minggu lagi dan
dengan itu, Melisa mulai berhenti memikirkan lelaki itu secara perlahan-lahan
walaupun nampaknya ia belum sepenuhnya berhasil karena Mario kerap melintasi
otak Melisa secara tiba-tiba dalam beberapa waktu terakhir ini.
Tentang
Aryo… Ia masih tidak mengerti dan bingung. Aryo bisa dengan begitu mudahnya
menarik simpati dan perhatian Melisa. Dengan Aryo, terkadang semuanya bisa
begitu mudah dan sulit secara bersamaan. Perasaan tidak enak selalu saja muncul
dibenak Melisa setiap kali ia sedang mengobrol dengan Aryo. Melisa tahu betul
ia melakukan hal yang salah dengan membiarkan Aryo masuk ke hidupnya, memenuhi
pikirannya, membuatnya khawatir begitu ia tiba-tiba tidak membalas pesan
singkatnya, membuatnya tertawa begitu lepas setiap kali mereka membicarakan
tentang hal konyol yang terjadi di masa lalu, membuatnya menceritakan setiap
hal yang tidak berani ia ceritakan pada Miko, membuat dirinya merasa begitu
diperhatikan, dan Aryo bisa membuatnya merasakan hal yang belum pernah Melisa
rasakan begitu kuat sebelumnya. Ia membuat Melisa jatuh cinta. Semua lagu cinta
kacangan yang selama ini selalu Melisa anggap aneh terasa begitu nyata.
Tapi
setelah tiba-tiba ‘menghilang’ tanpa mengucapkan satu katapun yang berujung ke
perpisahan, Melisa mulai merasakan semua ini hanya kebohongan belaka. Setelah
dibuat terbang begitu tinggi oleh Aryo, ia langsung terjatuh. Dan rasanya
begitu sakit. Sangat sakit malah. Dan semua lagu tentang patah hati yang selama
ini selalu Melisa abaikan terasa begitu nyata. Ingin rasanya Melisa menangis
ketika mendengar lagu-lagu patah hati melantun secara tidak sengaja dari
iPodnya. Tapi ia tidak bisa membuat dirinya men-skip lagu itu. Ia membiarkan lagu itu melantun dengan pelan dan
meresap jauh ke dalam hatinya yang sedang begitu sakit dan hancur. Lirik-lirik
yang selama ini tidak pernah Melisa mengerti, tiba-tiba langsung dimengerti. Kini
ia tahu seperti apa rasanya patah hati itu.
“Mel, udah
bangun?” suara Ira membuat Melisa cukup terkejut. Ia menoleh dan melihat Miko
berjalan menghampirinya lalu duduk di sebelahnya, “Lagi mikirin apa, sih? Kok
muka lo serius banget?”
“Lagi
mikirin banyak hal, Ra,” jawab Melisa dengan singkat dan Ira hanya menghela
napas. Ira tahu bahwa cepat atau lambat Melisa pasti akan menceritakan apa yang
ada di otaknya pada Ira.
“Aryo?”
tebak Ira dan Melisa hanya tersenyum miris.
“I’ve decided to just move on, Ra. Yah
tentu aja gue tau pasti ngga akan gampang buat move on dari Aryo, tapi yang penting gue nyoba, kan? Lagipula gue juga
sadar kalo gue ngga bisa terus-terusan nunggu hal yang sama sekali ngga pasti,”
Melisa menarik napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya, “Selain itu, gue
juga tahu kalo Aryo udah bahagia sama… Yah, lo tau lah siapa. Dan gue ngga akan
ngerusak kebahagian dia, Ra. Gue ngga mau ngusik dia lagi. Mungkin dia juga
udah lupa, kali, sama gue. Buktinya dia udah bahagia gitu—“
“Tapi, kan,
dia duluan yang ngusik lo, Mel,” potong Ira.
“Iya, gue
tau, Ra. Lagipula, gue juga salah, kok. Gue yang ngebiarin dia ngusik gue. Tapi
biarin aja lah… Gue tau move on itu
ngga segampang yang dikira orang, tapi gue juga ngga bisa lah terus-terusan
kayak gini…” sambung Melisa sambil menatap ikan-ikan yang berenang di kolam.
Melisa
menghela napas keras dan membiarkan kesunyian mengelilingi kedua sahabat itu.
Ia tahu kalau Ira pasti sudah bosan mendengar Melisa berbicara terus-menerus
tentang Aryo, tapi ia tidak tahu harus bicara pada siapa lagi tentang laki-laki
itu. Ia tahu Ira bisa memberinya banyak nasihat tentang urusan laki-laki
seperti ini.
“Sometimes the person behind your smile is
also the person behind your sadness.” Ucap Melisa secara tiba-tiba sambil
tersenyum kecil.
“Ah, udah
lah, jangan dipikirin lagi. Katanya tadi mau move on,” balas Ira sambil tertawa yang langsung membuat Melisa
tersenyum lebar, “Mending kita sarapan dulu aja, yuk. Abis itu DVD marathon!”
“Sip!”
Kedua sahabat itu bangun dari tempatnya dan berjalan masuk kembali ke dalam
rumah.
Bye-bye, Aryo. I promise I’ll try my best to not think
about you anymore. I know you’re happy with somebody else and I’m not gonna
ruin your happiness. Thank you for making my days so colorful and I’m glad I
gotta know you even though I ended up getting hurt, batin
Melisa sambil tersenyum kecil.
Yap, ia
tidak menyesal pernah mengenal Aryo dan sempat dekat dengannya selama beberapa
minggu. Aryo memang telah membuat hatinya sakit, tapi hal tersebut sama sekali
tidak membuat Melisa menyesal. Mungkin hal ini harus dijadikan pelajaran agar
nantinya tidak terjadi hal yang sama untuk kedua kalinya.
(THE END)
Related
Quote: “The person behind your
unexplained happiness is also the person behind your sadness.”
No comments:
Post a Comment