Saturday, May 11, 2013

Renungan Sabtu Malam #goshplease

Hi.

Gue akui dengan sepenuh hati bahwa blog ini ga terlalu keurus lagi sama gue hahaha.

Entah kapan terakhir gue nulis disini. Last post yang dipost beberapa bulan itu aja isinya cuman foto-foto di Jogja with my class mates last January. My God, entah gue yang terlalu males atau sibuk atau sok sibuk but really, I don't have much time to relax this semester. Tugas kelompok sana-sini, latihan padus sampe sore, dan berbagai macam hal lainnya yang sukses membuat gue uring-uringan ga jelas selama satu semester ini.

But put all the stressful work aside for a little while, hari ini alhamdulillah masih ada waktu buat duduk depan laptop dengan cukup santai dan menulis di blog ini lagi. Well, walaupun ga terlalu santai-santai bgt karena sudah ditunggu oleh buku sejarah dan b.inggris yang minta dirangkum karena bentar lagi ada ulangan -_- God...

Intinya, hari ini cuman mau memberi diri sendiri a little bit reality check aja sih. Gue merasa kurang puas dengan beberapa keputusan yang gue ambil beberapa bulan ini dan... like what I've done these months isn't good enough. Percuma juga sih kalo berharap I could turn back the time and change my decision and vice versa karena semua itu jelas-jelas ga mungkin. So, sekarang gue hanya bisa menjalani setiap harinya dan berdoa bakal ada jalan yang pas dan benar supaya gue bisa memperbaiki hal yang telah gue lakukan dulu gimana pun itu caranya.

Kadang gue diem di kamar sendirian dan took a little time buat merenung sebentar. And that's when all the things I have pushed to the back of mind comes back to the surface again and I feel guilty and sad all over again.

I miss everyone back home. I miss my big family and all my friends back in Jakarta. Mostly Amira. Gosh, I miss you so much it hurt, Mir. Our friendship of 11 years means a lot to me. Tho we don't live in the same city anymore, we still manage to keep our friendship going :') Cheers! :') And I miss everything I used to have back when I still lived in my hometown. I miss hanging out with my family every weekend. I miss going out with the cousins on holiday. I miss talking and laughing like lunatics about nonsense thing with them. I miss it so damn much :'(





Now here we are, years later, all grown up and even some of us are already married and having kids. It shocked me how time goes by so fast. Kadang gue suka berpikir "hah? Tahun ini ada yang mau dilamar lagi? Kok cepet banget?" dan gue hanya bisa bengong bentar ngebayanginnya.

Bahkan beberapa hari lagi gue bakal ulang tahun yang ke-17 dan October nanti kakak gue ulang tahun yang ke-20. God. Speaking of big brother, I miss him so much. Dia belom balik sebulan lebih karena sibuk praktikum dan banyak tugas dan I miss him. I miss jamming to our favorite songs and laughing our butts off while watching Running Man. Mudah-mudahan pas gue ulang tahun nanti, lo bisa balik ya bang. My 17th birthday won't be special without your appearance at home.



Dan sekarang, yang bisa gue lakukan adalah live my high school life to the fullest di Sukabumi karena tahun depan gue udah senior dan all I wanna do is to enroll at one of colleges in Bandung or Jakarta. But it better be in Jakarta so I could finally live in my lovely hometown again :* OR maybe somewhere out of this country. Because this is what I've been planning with my friends lately :D

Hmmm I think that's all. Ga terlalu banyak bacot deh yaa kali ini. Wish you have a wonderful weekend ahead. See ya later, fellas! :)

Sunday, November 18, 2012

What Should I Be? (Part 1: Doctor?)

First of all, this post and a few posts coming up with a related theme is inspired by my best friend, Amira. I got inspired by her posts about her dreams that she wants to pursue so I decided to make posts like that too. The reasons are... first, I feel like.. I need to let it out of my brain because it's been inside my head since God knows when and I can't let it hang there everyday, it could make my crazy. Second, maybe if I write and post about it, I could sort some things out and make up my mind about everything. Maybe I could think about everything more clearly and maybe I could get some more inspirations. Anyway, all credit of the theme of this post goes to the amazing Amira Nadia Sawitri who's been my best friend since Grade 1. Love you, bestie! <3 p="p">
So, here it is!

I'm a junior now in high school and I know what it means... I have to think about what college I want to go in the future, what I want to be in the future... basically every little thing that involves around college-talk. I used to have this talk like every night with my family but the more they bring up this subject every time we talk, the more I want to sit in the corner and just disappear from this world. I used to have everything I wanted clear inside my head, but now, I don't. Now, things like that get blurry. It's like the more I know about something that involves around college, the more I'm confused about what I should be in the future.

When I was still a kid, I wanted to be a doctor so bad. Well, I think that happens to everyone, doesn't it? Everyone when they're still a kid always dreams of being a doctor. But it changed when they get older. Well that doesn't change for me until I was a freshman in high school. I continued to dream of becoming a doctor, but it got harder everyday. I know that if I want to be a doctor, I should at least be 'friends' with Biology which is totally not my thing. I used to force myself to like Biology but it didn't work. I studied very hard when the exam came but still I got bad scores haha.

I used to work very hard for my Dad's sake because he's been telling me to not give up easily and motivated me but that didn't work. He kept telling me to not give up easily and to work harder than I already was. And I did it. I did it for him, Mom, my brother, and people around me. But somehow it didn't work for me, even after I used my family to be my motivation. Gosh. What happened to me?

In the end, I slowly stopped dreaming of becoming a doctor because I realize I'm not good enough to be one of them. Maybe, God has another plan for me and me becoming a doctor isn't one of His lists. Well, I had tried and worked very hard for it, right? I mean, it's not like I didn't do anything at all to pursue that. So I think, becoming a doctor isn't the thing I want to be in the future anymore.

Thursday, September 20, 2012

Lesson Learned

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1423 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin :)

Oke ini emang udah telat banget but whatever deh ya. Resiko udah lama banget ngga ngepost disini deh kayaknya hmm. Tapi tidak ada kata terlambat untuk minta maaf kan? :D 

Anyway, as always gue disini bakal cuap-cuap seenak jidat gue yang lebar ini tentang hal yang baru aja melintas di otak gue.

Dan hal ini adalah... Penyesalan. 


Yap. Gue sadar bahwa gue telah melakukan hal-hal yang seharusnya ngga sama sekali gue lakukan selama beberapa bulan ke belakang ini. Selain itu, gue juga udah ngambil keputusan yang salah dalam beberapa hal. Dalam hal ini, yang paling kerasa adalah dalam urusan love life gue yang masih sangat dangkal. 


Hm mungkin roman-romannya gue bakal frontal disini tentang semuanya... Tapi ngga akan separah itu kok. Gue ngga akan nyebut nama kok hahaha ;)


So, here we go...


Sebagai pembuka, gue pengen nanya satu hal. Pernah ngga sih lo suka sama seseorang yang keliatannya itu 'wah' atau bener-bener 'out of your league' sampe lo sendiri udah positif banget kalo lo ngga akan pernah bisa sama dia kapanpun itu karena lo selalu berpikir bahwa you're not as beautiful as other girls dan lo itu invisible di mata dia... Ah pokoknya lo selalu berpikiran bahwa dia ngga mungkin bisa sama kita lah. 


Well... Hal ini terjadi sama gue. 


Dulu, gue pernah suka sama seorang senior yang cukup terkenal. Everybody knows him. Lots of girl adore him. Gue yang biasa-biasa aja ini suka sama dia tapi hanya sekedar suka doang. Being a secret admirer was enough for me back then. Tapi suatu malam gue dikagetkan dengan sms yang begitu mengejutkan dari salah satu sahabat gue. Di sms itu, sahabat gue bilang kalo si senior itu minta nomor gue dan nanyain gue. Refleks dong gue langsung pucet, kaget, seneng, semuanya campur aduk. I mean, I had always thought that there's no way he would know me... tapi ternyata? Kenyataan menyatakan sebaliknya.
He finally knew me and text me that night. 

Sebelum
si senior ini datang, gue lagi deket sama 1 orang. Dan untuk deket sama orang ini juga ga gampang. It took a lot of time for me to gain my courage to just say hi and/or smile to him. Orang ini jago main gitar dan... well, I just like him okay? Kalo nanya ke gue kenapa gue bisa suka sama dia, gue hanya akan menjawab 'tanya saja pada rumput yang bergoyang' karena gue sendiri ngga bisa mengungkapkan perasaan gue dengan kata-kata (whuttttt)

So, singkatnya. Put two and two together and BAM! Trouble and regrets came in my way. Gue jadi lebih pay attention pada si senior yang jelas-jelas sangat 'ngga pasti' dan nge-ignore si cowo yang 1 angkatan ini dan akhirnya penyesalan pun tiba. In the end, si senior kabur setelah ngasih harapan yang sangat palsu dan bullshit sedangkan si cowo yang 1 angkatan ini juga jadi galau gara-gara gue. Hhhhh


And that's it. Penyesalan emang baru kerasa belakangan and it sucks you know. Sekarang gue selalu ngerasa bersalah setiap ngeliat si cowo dan ngerasa sebel banget setiap ngeliat si senior.  Kadang-kadang pengen rasanya gue siram itu senior pake air -_- hahahaha peace! (Kalo kamu baca ini, ka, maafin deh ya. Maafin banget. Blog post ini juga mengandung unsur komedi kok :D)


Intinya... Kita ngga akan pernah sadar kalo ada orang yang bener-bener care sama kita dan mau nerima kita apa adanya (se-gaje apapun kita, se-cerewet apapun kita, se-weird apapun kita) sampai orang itu pergi menjauh dari kita. Mungkin kadang kita berpikir bahwa mereka akan balik lagi, tapi kalo ternyata mereka ngga balik lagi gimana? Kita mungin hanya bisa berharap bisa memutarbalikkan waktu supaya kita ngga ngelakuin hal itu dan ngulang semuanya lagi. But too bad we can't turn back the time and undo then fix everything the way we want it.


Mungkin beberapa dari kalian berpikir blog post ini konyol karena gue udah nulis sebagian kecil rahasia gue sendiri. Emang sih gue sendiri jg berpikir kayak gitu... Tapi gue pengen banget keluarin unek-unek ini dan pengen orang lain bisa ngambil hikmah dari hal yang udah kejadian sama gue ini. Gue harap orang lain bisa ngambil pelajaran dari post ini supaya mereka ngga ngelakuin hal yang telah gue lakuin di masa lalu.


Ummmm I think that's all from me. Mudah-mudahan post ini bermanfaat deh... Ya kalo ngga bermanfaat paling ngga agak sedikit menghibur lah hahaha XD Anyway, terima kasih banyak udah baca post ini. Hope you guys have a great day!!


Lots of love,




Sunday, August 12, 2012

Sebuah Cerpen: Terlalu

Bali, 25 May 2012.

Angin pantai yang bertiup cukup kencang dan desiran ombak yang begitu menenangkan menemani Melisa yang duduk termenung di ayunan kayu tepat di halaman belakang beach house yang ia tempati bersama teman-teman kuliah dan beberapa sepupunya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam tetapi Melisa sama sekali belum mengantuk. Well, mungkin ia sudah cukup mengantuk tapi beberapa hal yang tidak berhenti menghantui pikirannya membuat Melisa tidak bisa tidur sama sekali. Ira, sahabatnya sejak SMA, akan sedikit kesal jika ia tahu bahwa Melisa lagi-lagi terbangun oleh hal yang sama sejak beberapa minggu yang lalu.

“Mel,” Oh there she comes… “Lo belom tidur?” Tak lama kemudian, Ira duduk di sebelah Melisa dan menghela napas keras.

“Ngga bisa tidur, Ra.” Lagi-lagi Ira menghela napas begitu mendengar jawaban Melisa.

“Hmm let me guess… Pasti Aryo lagi, ya?” Pertanyaan Ira langsung membuat Melisa tertunduk. Ia menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Tentu saja Ira tahu bahwa Aryo dalang dari semuanya. Aryo lah penyebab Melisa kurang tidur dan mimpi buruk yang terus menerus mendatangi Melisa selama beberapa minggu ke belakang. Bukan hanya itu, Aryo juga yang menyebabkan Melisa lebih pemurung dan pendiam.

Sejak Aryo ‘menghilang’, hari-hari Melisa terasa lebih mendung. Yang ia lakukan setelah pulang kuliah hanyalah diam di kamar sambil memainkan blackberry-nya atau diam di depan TV sambil makan ice cream dan tissue bertebaran di sekelilingnya.

“Udahlah, Mel. Jangan dipikirin lagi. Orang kayak gitu sama sekali ngga pantes buat lo pikirin. Move on lah, Mel,” ucap Ira dengan pelan sambil memperhatikan figure Melisa yang masih menunduk.

“Ah, andaikan move on segampang itu, Ra…” Melisa mendongak dan hanya bisa tertawa hambar begitu mendengar perkataan sahabatnya itu. Entah sudah berapa kali Ira mengatakan hal yang sama pada Melisa tapi tetap saja Melisa belum ingin berubah. Ia masih stuck di tempat yang sama, stuck di tempat yang gelap dan penuh oleh kenangan-kenangan yang tidak ada henti menghantui dirinya.


Bandung, 18 Maret 2012.

“Mel!! Awas!!!” Begitu mendengar namanya dipanggil, Melisa langsung membalikkan badannya dan BUK! Sebuah bola mendarat tepat di wajahnya. Seketika itu juga wajahnya langsung terasa sakit dan kepalanya pusing, “Mel? Lo gapapa, kan?” terdengar suara Ira yang semakin mendekat.

“Hm, lumayan, Ra. Langsung puyeng gini kepala gue.” Sebelum bisa berkata apa-apa lagi, Melisa merasa ada seseorang selain Ira yang membantunya berjalan menuju bangku terdekat dan membantunya duduk, seakan-akan jika mereka melepaskan Melisa, ia akan langsung jatuh dan pingsan.

Melisa masih belum bisa menyadari apa yang terjadi saat itu. Ia sedang mengecek binder tebalnya untuk memastikan bahwa ia tidak meninggalkan apapun di ruang workshop tapi begitu sedang berjalan di sekitar lapangan bola, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya dan sedetik kemudian sebuah bola langsung mendarat di wajahnya.

“Tadi siapa sih yang nendang bola sekencang itu sampe bisa kena muka gue?!” tanya Melisa dengan sewot sambil mengusap-ngusap wajahnya yang terasa panas dan sedikit perih.

“Itu si Aryo, Mel,” jawab Rendra, pacar Ira. Melisa langsung mengkerutkan dahinya begitu mendengar nama Aryo. Oh… ternyata si Aryo, toh. Pantesan kencang banget, batin Melisa dalam hati, “Tau Aryo, kan?” tanya Rendra.

“Ya, taulah, Ren. Dulu kan si Melisa pernah suka.” Refleks, Melisa langsung menginjak kaki Ira dengan kencang, “Aw! Sakit, dodol!”

“Hah? Apa? Pernah suka? Cieeee,” sambar Rendra sambil tertawa yang langsung membuat Melisa kesal seketika.

“Duh, udah deh, ya, yang lalu ngga usah dibahas. Emang sih dulu pernah suka, tapi udahlah, itu kan dulu. Ngga usah dibahas lagi lah…” Melisa menghela napas keras dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia memang dulu pernah suka dengan Aryo, tapi itu dulu. Semua itu terjadi sebelum Melisa mengetahui bahwa Aryo sudah punya pacar dan sebelum Mario hadir.

“Speaking of the devil… Itu orangnya nyamperin,” bisik Ira dengan cukup keras yang tidak bisa langsung dicerna dengan Melisa. Melisa hanya mengerutkan dahinya dan menoleh ke belakang.

Benar saja apa yang dikatakan Ira beberapa detik yang lalu. Aryo berjalan dengan cukup cepat ke arahnya sambil membawa tas ransel abu-abunya dan kacamata yang biasa ia kenakan sehari-hari. Tanpa disadari, Melisa mulai merasa aneh. Jantungnya berdegup beberapa kali lebih cepat, tenggorokannya seketika kering, pipinya terasa panas, dan kepalanya terasa sedikit pusing. Ya Tuhan… Melisa, tenangin diri lo! Tarik napas dalem-dalem, Mel, batin Melisa sambil menarik napas perlahan dan menghembuskannya lewat mulut.

“Uhhh, hi. Gue Aryo,” ucap Aryo dengan perlahan sambil menggaruk belakang lehernya dan tersenyum kecil.

“Melisa,” ucap Melisa dengan suara yang sedikit serak dan buru-buru ia berdeham.

“Gue tau kok,” Melisa langsung mengkerutkan dahinya lagi. Sejak kapan Aryo tahu namanya? Melisa tahu pasti bahwa selama ini Aryo tidak pernah mengenal dirinya. Meliriknya sedikit saja tidak pernah, apalagi tahu namanya?, “Eh itu… Tadi… Maaf ya. Gue sama sekali ngga nyangka tendangannya bakal sekencang itu sampe bisa kena muka lo segala.” Aryo menjelaskan dengan raut wajah yang cukup serius, seakan-akan ia benar-benar merasa bersalah karena telah menendang bola itu terlalu kencang.

“Uh, iya, ngga apa-apa kok. Santai aja,” Melisa tersenyum miris lalu tertawa hambar. Duh, Mel, jelas-jelas lo itu jelas ngga gapapa. Muka perih gini masih bisa bilang gapapa. Ya ampun, batin Melisa lagi dalam hati dan seketika ingin rasanya ia menghilang dari permukaan bumi ini karena malu.

“Makanya, bro, lain kali kalo nendang bola jangan pake emosi. Santai aja lah,” sambar Rendra sambil tertawa kecil dan Melisa melihat seulas senyum kecil mengembang di wajah Aryo.

“Iya, iya. Kejadian kayak tadi jelas-jelas ngga akan kejadian lagi, lah. Tenang aja.” Aryo tertawa kecil dan melirik Melisa yang sedang mengusap-usap dahinya yang terus berkeringat, “Hm, gue duluan ya. Harus ke toko buku dulu sebentar, ngambil titipan kakak. Dah…” Aryo tersenyum lagi dan melambai pada Melisa, Rendra, dan Ira sebelum akhirnya berjalan menjauh ke tempat parkir.

Setelah Aryo menjauh, Melisa menghela napas keras dan menggaruk lengannya yang sama sekali tidak terasa gatal, “Mel, lo harus tau kalo tadi muka lo sempat merah dan pucat.” Melisa langsung kaget begitu mendengar perkataan Ira.

“Seriusan, Ra?” Ira hanya mengangguk dan Rendra malah tertawa, “Eh, malah ketawa lagi! Udah sana! Hus hus hus! Bukannya jam 11 ada kelas, ya? Sekarang udah jam 11 kurang 10 menit juga.”

“Oh iya! Ya ampun! Dah, Ira!” Rendra mengacak-acak rambut Ira terlebih dahulu sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam gedung.

Melisa terdiam lagi begitu Rendra sudah pergi. Ia langsung terjebak dalam pikirannya yang sudah semrawut. Dan kehadiran Aryo selama beberapa menit itu juga membuat pikirannya tambah semrawut. Sudah 3 bulan lebih ia tidak memikirkan Aryo lagi, bahkan melihatnya di daerah kampus pun jarang, tapi kali ini tiba-tiba Aryo memasuki pikirannya lagi, membuat hatinya berdegup lebih kencang hanya dengan memikirkannya saja, membuat pipinya bersemu merah hanya dengan mengingat senyum kecil yang tadi diberikan Aryo kepadanya.

“Mel, inget Mario,” ucap Ira dan langsung membuat Melisa untuk menunduk dan malu pada dirinya sendiri. Mario. Tentu saja Melisa mengingat Mario. Laki-laki yang ia temui di awal semester ini, laki-laki yang bisa membuat perasaannya tidak karuan, laki-laki yang bisa membuatnya semangat dan tersenyum lagi di tengah-tengah harinya yang kacau, laki-laki yang bisa mengubur perasaannya untuk Aryo jauh dalam-dalam di tempat paling bawah di hatinya selama beberapa bulan sampai hari ini.

Tapi kali ini, untuk beberapa saat saja, Melisa tidak ingat Mario sama sekali. Nama ‘Mario’ pun tidak terbesit sama sekali di hati dan pikirannya begitu ia melihat wajah Aryo dan senyum yang mengembang di wajahnya.  Bahkan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nama ‘Aryo’ lah yang membuatnya tersenyum, bukan Mario.


Bali, 29 May 2012.

“But you didn’t have to cut me off. Make out like it never happened and that we were nothing. And I don’t even need your love. But you treat me like a stranger and that feels so rough…” Melisa mematikan iPodnya dan menghela napas keras-keras. Ia sudah tidak kuat mendengarkan lagu itu lagi. Liriknya terlalu menyakitkan bagi dirinya. Dulu ia hanya tertawa begitu kakaknya, Miko, mendengarkan lagu tersebut dengan raut wajah yang cukup menyedihkan. Tapi sekarang, hal itu yang justru terjadi pada Melisa sendiri.

Melisa bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela besar yang langsung menghadap ke pantai. Terlihat Ira, Rendra, Miko, dan 2 sepupunya sedang bermain voli pasir dan tertawa-tawa riang… dan hanya Melisa yang tidak ada disana. Ia tahu mengapa tidak ada yang membangunkannya sama sekali dan mengajaknya untuk bergabung. Mereka semua tahu bahwa Melisa merasa tidak enak badan dari kemarin siang dan hanya diam dan istirahat di rumah.

“Melisaaaa!!! Bangun!!!” Terdengar teriakan Miko dari luar. Melisa membuka jendela besar yang sekaligus berfungsi sebagai pintu itu—dan berjalan menghampiri Miko yang menunggunya di pantai, “Tumben banget jam segini baru bangun. Biasanya lo suka bangun paling pagi,” ucap Miko begitu Melisa datang menghampirinya dan duduk bersama Ira di atas pasir.

“Semalem tidur sekitar jam 11an dan itu pun masih kebangun sampe tengah malem. Belum lagi hidung yang ngga berenti meler. Yaaa harap maklum lah.” Melisa tertawa kecil dan Miko hanya menghela napas.

“Eh, hari ini kita mau ke Waterbom, loh. Mau ikut ga?” tanya Ira sambil menguncir rambut panjangnya yang sudah mulai lepek.

“Ikut!!! Kalian gila, ya, mau ninggalin gue ke Waterbom gitu aja?!” sambar Melisa sambil sewot.

“Kan kemaren bilang lagi ngga enak badan, ya udah, mending istirahat aja di rumah,” timpal Rendra sambil mengambil bola voli yang terjatuh tidak jauh dari tempatnya duduk.

“Udah, udah. Sana, gih, maen voli lagi!” ucap Melisa sambil setengah mengusir Miko dan Rendra yang tidak ada henti menganggunya. Miko dan Rendra hanya tertawa dan melanjutkan permainan voli mereka yang sempat tertunda.

“Gue semalem mimpiin Aryo lagi, Ra,” Melisa mengambil segenggam pasir dan memperhatikannya jatuh melalui sela-sela jarinya, “Di mimpi itu, gue, lo, Rendra, sama Aryo lagi nonton pertandingan basket antar-fakultas, trus tiba-tiba gue sakit perut gitu. Ternyata pas di cek, bekas jahitan operasi usus buntu gue kebuka lagi dan banyak darah gitu, trus tiba-tiba kita semua udah ada di rumah sakit gitu dan tiba-tiba Aryo ngilang gitu aja. Hm, pertanda apa, ya, Ra?”

“Penyebab lo mimpi kayak gitu adalah karena kemaren siang kita lagi ngomongin pertandingan basket Miko bulan lalu dan pas malemnya lo ngomongin Aryo. Makanya dia mampir ke mimpi lo tadi malem.” Jawaban Ira memang benar. Kemarin siang, kedua sahabat itu dan 1 sepupu Melisa menghabiskan waktu di rumah dan mengobrol tentang beberapa hal, termasuk tentang pertandingan basket Miko, “Eh, Mario apa kabar, Mel?”

Pertanyaan Ira langsung membuat Melisa tertegun. Apa kabar Mario? Sudah lama ia tidak menghubungi laki-laki itu… atau lebih tepatnya, sudah lama laki-laki itu tidak menghubungi Melisa. Terakhir kali Melisa melihat Mario adalah hari terakhir kuliah dan terakhir kali ia dihubungi Mario adalah 1 minggu yang lalu. Ya, benar, 1 minggu yang lalu.

“Ngga tau, Ra,” jawab Melisa dengan pelan, “Terakhir kali dia nge-contact gue itu 1 minggu yang lalu, pas dia ‘tanya’ pertanyaan itu, Ra. Setelah itu, gue ngga pernah denger apapun dari dia lagi. Terakhir kali itu, ada yang bilang ke gue kalo dia galau, Ra. Ya ampun, gue jahat, ya? Udah ngebuat anak orang jadi galau gitu.”

“Bukan salah lo juga, Mel. Kalo waktu itu lo jawab ‘iya’, lo bakal lebih ngerasa bersalah lagi, Mel. Mending ngerasa bersalah sekarang daripada lo jawab ‘iya’ dan ngga sepenuhnya bahagia dan mikirin dia. Bayangin apa yang bakal dia rasain kalo dia tau ternyata lo masih mikirin Aryo pas kalian pacaran. Nah itu bakal ngebuat dia lebih sakit lagi, Mel. Mending dia sakitnya sekarang daripada nanti di akhir dan ada kemungkinan dia bakal benci sama lo,” ucap Ira panjang lebar dan langsung membuat Melisa merasa semakin tidak enak. Andai saja Aryo tidak pernah masuk ke dalam hidupnya, pasti ia tidak akan menyakiti perasaan Mario.


Bandung, 25 Maret 2012.

Melisa duduk bersila di tempat tidurnya sambil menonton DVD Revenge season 1 yang ia beli satu minggu lalu. Bungkus corn chips, botol minum, binder, dan kertas tugas berceceran berantakan di tempat tidurnya. Jika Mama berada disini, pasti Mama akan marah besar melihat kamar anak perempuannya itu berantakan. Tapi Melisa tidak sedang mengkhawatirkan hal itu. Melisa sedang mengkhawatirkan blackberry-nya yang belum berbunyi sama sekali sejak siang tadi. Bahkan sampai ia selesai mengerjakan tugasnya pun, smart phone itu masih juga belum berbunyi. Walaupun ia sudah mengalihkan perhatiannya dengan menonton DVD, tetap saja perhatiannya terpusat pada smart phone yang masih bergeming itu.

Lo kemana sih? Kok sampe jam segini masih belum ngabarin juga?, batin Melisa sambil memeluk boneka Tazmania-nya yang besar itu. Entah takdir atau kebetulan, tapi beberapa menit setelah itu, ponselnya bergetar dan lagu Big Time Rush, Worlwide, melantun dengan cukup kencang. Melisa langsung menyambar ponselnya dan melihat layar, Aryo is calling. Tanpa basa-basi, Melisa langsung mengangkat telponnya, “Halo?”

“Hai, Mel. Maaf aku baru ngabarin lagi, dari tadi siang sibuk banget. Harus nyelesaiin tugas Pa Yono yang deadline-nya malam ini. Tapi sekarang semuanya udah beres kok,” ucap Aryo langsung membuat Melisa merasa tenang seketika. Mendengar Aryo berbicara panjang lebar sudah merupakan salah satu hobi nya yang baru. Ia bisa tahan mendengarkan Aryo berbicara panjang lebar tanpa merasa bosan sedikitpun. Justru, hal itu malah membuatnya merasa sedikit tenang.

“Iya, ngga apa-apa, kok. Santai aja lah, aku juga daritadi ngerjain tugas kok. Ini sekarang baru beres dan lagi santai.” Agak lucu bagaimana bahasa yang mereka gunakan terhadap satu sama lain sangat berbeda dari bahasa yang biasa mereka gunakan sehari-hari. Ketika mereka berbicara, bahasa yang digunakan lebih halus, nada yang digunakan lebih lembut, kata-kata yang dikeluarkan dari mulut masing-masing juga lebih dijaga. Melisa selalu berhati-hati agar tidak mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan, takut akan merusak semua hal yang telah ia miliki selama ini.

“Oh, bagus lah. Kamu lagi apa, Mel? Udah makan? Aku tadi baru makan jam 8-an, loh, padahal tadi pagi ngga sarapan sama sekali dan tadi siang juga makannya telat.” tanya Aryo yang langsung membuat hati Melisa berdegup 2 kali lebih cepat dari biasanya dan pipinya merah seketika. Pertanyaan yang dikeluarkan dari mulut Aryo memang sangat sederhana. Tapi hal-hal sederhana seperti itulah yang membuat Melisa merasa bahagia.

“Ini lagi nonton TV aja di kamar. Tadi udah makan kok, sekitar jam 8-an,” jawab Melisa, “Kok bisa sampe ngga sarapan gitu? Emangnya ngapain aja? Males-malesan terus sih, ya, dikasur sampe lupa sarapan gitu. Padahal biasanya kalo urusan makan kamu suka langsung jalan…”

“Kan tadi pagi pas bangun langsung sms-an sama kamu. Udah gitu kamu juga ngga ngingetin aku buat sarapan lagi, jadinya diem terus, deh, di kamar,” jawab Aryo sambil tertawa dan Melisa pun langsung ikut tertawa juga.

“Hiiiii malah nyalahin lagi. Dasar, aneh-aneh aja sih. Yang penting lain kali jangan sampe lupa sarapan lagi. Nanti kondisi nge-drop trus sakit trus bolos kuliah. Jangan sampe lah, ya. Trus minum vitamin juga, ya. Sekarang lagi musim penyakit gini… Oh iya! Istirahat juga yang cukup,” jelas Melisa panjang lebar sambil memainkan boneka Tazmania-nya.

“Iya, Mba… Mulai, deh, bawelnya keluar lagi,” timpal Aryo yang langsung membuat pipi Melisa bersemu merah, “Kalo bawel itu, tandanya perhatian. Berarti kamu perhatian sama aku…”

“Ah, kata siapa? Kakak aku malah suka marah kalo aku bawel ngga jelas,”

“Justru bawel itu tanda orang perhatian…” tambah Aryo dengan santai, “Makasih, ya, kamu udah perhatian sama aku.” Pipi Melisa langsung memerah lagi, “Pasti pipinya langsung merah deh.”

“Ah, engga, biasa aja kok. Sok tau banget deh,” sergah Melisa, pipinya masih memerah. Lalu mereka berdua berhenti berbicara selama beberapa saat. Mereka hanya mendengarkan suara bernafas masing-masing. Bahkan kesunyian seperti itu membuat mereka nyaman terhadap diri masing-masing. Sebenarnya, Melisa tidak pernah menyukai ‘kesunyian’ saat berbicara dengan seseorang dalam telpon, tapi kali ini, entah kenapa hanya dengan mendengarkan suara napas Aryo, dirinya sudah merasa senang dan nyaman.

“Mel, aku boleh jujur sama kamu?” tanya Aryo secara tiba-tiba dan Melisa hanya terdiam. Diam tersebut diartikan Aryo sebagai ‘iya’, “Aku kangen sama kamu.” Kata-kata tersebut meluncur dengan mudahnya dari mulut Aryo dan hanya dengan 3 kata yang sederhana itu, jantung Melisa langsung berdegup sangat cepat dan ia merasa kebas. Jemarinya langsung bergetar dan napasnya tercekat. Tidak pernah ia mendengarkan seseorang mengatakan kata-kata itu kepadanya secara langsung.  Aryo lah yang pertama kali mengatakannya dan Melisa merasa sangat senang, seakan-akan ia langsung terbang ke langit ke-7.

“Aku kangen denger suara kamu, Mel.” Lagi-lagi, Melisa seakan terbang tinggi jauh ke angkasa. Dan Aryo lah yang membawanya terbang tinggi. Melisa tau akan resiko dari melakukan hal ini bersama Aryo. Ia tahu bahwa ada resiko hatinya akan hancur remuk oleh Aryo, tapi hal itu tidak mengapa baginya.

“Kok bisa, Yo?” tanya Melisa dengan suara yang pelan dan tercekat.

Bukannya menjawab pertanyaan Melisa, Aryo justru berkata, “Jauh lebih tepatnya, tapi kalo kangen berarti sayang juga… Aku kangen sekaligus sayang juga sama kamu.” Kalimat yang diucapkan Aryo itu langsung membuat Melisa lemas seketika. Melisa tahu tidak pernah ada orang yang mengatakan ‘sayang’ padanya sebelum Aryo. Dan dengan kalimat itu, Melisa merasa seakan-akan terbang, pipinya memerah lagi, jantung berdegup kencang tidak karuan, dan air mata mulai memenuhi matanya. Dengan itu, Melisa baru menyadari bahwa ia sedang merasakan satu hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia sedang jatuh cinta. Ia jatuh cinta pada Aryo. Aryo Permana. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga menyadari bahwa ia jatuh cinta pada orang yang salah. Ia tidak seharusnya jatuh cinta pada Aryo, karena hal ini sangat salah. Sangat salah sampai Melisa pun tidak bisa melakukan apa-apa dan membiarkan dirinya sendiri berjalan di jalan yang salah.


Bandung, 5 Juni 2012.

Sinar matahari yang begitu terang menyorot menembus tirai kamar Melisa yang sedikit terbuka. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi tetapi belum ada tanda-tanda kehidupan yang menonjol di rumah Melisa. Kedua orang tua Melisa sedang pergi ke Jakarta dan baru akan kembali 2 hari yang akan datang. Dan hal itu membuat Melisa dan Miko yang baru sampai dari Bali malam sebelumnya semakin malas untuk bangun.

Dering ponsel Ira yang berbunyi cukup kencang membuat Melisa terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia membuka matanya perlahan dan melirik Ira yang tertidur dengan sangat pulas di sebelahnya. Sahabatnya yang satu ini memang ‘kebo’. Walaupun ponselnya berbunyi, Ira tetap saja tidak bangun dan tetap tertidur lelap.

Begitu dering ponsel berhenti, Melisa menghela napas keras dan bangun dari tempat tidurnya. Tanpa membereskan tempat tidurnya, Melisa berjalan keluar dari kamar menuju dapur. Ia membuka salah satu rak dan mengambil sebotol susu coklat yang selalu tersedia di rak tersebut. Setelah itu, ia berjalan ke halaman belakang dan duduk bersandar di tembok, menutup matanya perlahan dan menikmati angin sejuk yang berhembus di sekelilingnya.

Berbagai macam hal yang telah ia simpan dengan begitu rapi di dalam hatinya yang paling dalam dan belum pernah ia pikirkan kembali selama beberapa hari terakhir ini perlahan-lahan mulai bermunculan di otak Melisa. Ia memikirkan tentang Mario dan Aryo.

Tentang Mario… sepertinya semua sudah terlambat. Melisa tidak pernah mendapat kabar tentang lelaki itu setelah pertemuan terakhir mereka beberapa minggu lagi dan dengan itu, Melisa mulai berhenti memikirkan lelaki itu secara perlahan-lahan walaupun nampaknya ia belum sepenuhnya berhasil karena Mario kerap melintasi otak Melisa secara tiba-tiba dalam beberapa waktu terakhir ini.

Tentang Aryo… Ia masih tidak mengerti dan bingung. Aryo bisa dengan begitu mudahnya menarik simpati dan perhatian Melisa. Dengan Aryo, terkadang semuanya bisa begitu mudah dan sulit secara bersamaan. Perasaan tidak enak selalu saja muncul dibenak Melisa setiap kali ia sedang mengobrol dengan Aryo. Melisa tahu betul ia melakukan hal yang salah dengan membiarkan Aryo masuk ke hidupnya, memenuhi pikirannya, membuatnya khawatir begitu ia tiba-tiba tidak membalas pesan singkatnya, membuatnya tertawa begitu lepas setiap kali mereka membicarakan tentang hal konyol yang terjadi di masa lalu, membuatnya menceritakan setiap hal yang tidak berani ia ceritakan pada Miko, membuat dirinya merasa begitu diperhatikan, dan Aryo bisa membuatnya merasakan hal yang belum pernah Melisa rasakan begitu kuat sebelumnya. Ia membuat Melisa jatuh cinta. Semua lagu cinta kacangan yang selama ini selalu Melisa anggap aneh terasa begitu nyata.

Tapi setelah tiba-tiba ‘menghilang’ tanpa mengucapkan satu katapun yang berujung ke perpisahan, Melisa mulai merasakan semua ini hanya kebohongan belaka. Setelah dibuat terbang begitu tinggi oleh Aryo, ia langsung terjatuh. Dan rasanya begitu sakit. Sangat sakit malah. Dan semua lagu tentang patah hati yang selama ini selalu Melisa abaikan terasa begitu nyata. Ingin rasanya Melisa menangis ketika mendengar lagu-lagu patah hati melantun secara tidak sengaja dari iPodnya. Tapi ia tidak bisa membuat dirinya men­-skip lagu itu. Ia membiarkan lagu itu melantun dengan pelan dan meresap jauh ke dalam hatinya yang sedang begitu sakit dan hancur. Lirik-lirik yang selama ini tidak pernah Melisa mengerti, tiba-tiba langsung dimengerti. Kini ia tahu seperti apa rasanya patah hati itu.

“Mel, udah bangun?” suara Ira membuat Melisa cukup terkejut. Ia menoleh dan melihat Miko berjalan menghampirinya lalu duduk di sebelahnya, “Lagi mikirin apa, sih? Kok muka lo serius banget?”

“Lagi mikirin banyak hal, Ra,” jawab Melisa dengan singkat dan Ira hanya menghela napas. Ira tahu bahwa cepat atau lambat Melisa pasti akan menceritakan apa yang ada di otaknya pada Ira.

“Aryo?” tebak Ira dan Melisa hanya tersenyum miris.

“I’ve decided to just move on, Ra. Yah tentu aja gue tau pasti ngga akan gampang buat move on dari Aryo, tapi yang penting gue nyoba, kan? Lagipula gue juga sadar kalo gue ngga bisa terus-terusan nunggu hal yang sama sekali ngga pasti,” Melisa menarik napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya, “Selain itu, gue juga tahu kalo Aryo udah bahagia sama… Yah, lo tau lah siapa. Dan gue ngga akan ngerusak kebahagian dia, Ra. Gue ngga mau ngusik dia lagi. Mungkin dia juga udah lupa, kali, sama gue. Buktinya dia udah bahagia gitu—“

“Tapi, kan, dia duluan yang ngusik lo, Mel,” potong Ira.

“Iya, gue tau, Ra. Lagipula, gue juga salah, kok. Gue yang ngebiarin dia ngusik gue. Tapi biarin aja lah… Gue tau move on itu ngga segampang yang dikira orang, tapi gue juga ngga bisa lah terus-terusan kayak gini…” sambung Melisa sambil menatap ikan-ikan yang berenang di kolam.

Melisa menghela napas keras dan membiarkan kesunyian mengelilingi kedua sahabat itu. Ia tahu kalau Ira pasti sudah bosan mendengar Melisa berbicara terus-menerus tentang Aryo, tapi ia tidak tahu harus bicara pada siapa lagi tentang laki-laki itu. Ia tahu Ira bisa memberinya banyak nasihat tentang urusan laki-laki seperti ini.

“Sometimes the person behind your smile is also the person behind your sadness.” Ucap Melisa secara tiba-tiba sambil tersenyum kecil.

“Ah, udah lah, jangan dipikirin lagi. Katanya tadi mau move on,” balas Ira sambil tertawa yang langsung membuat Melisa tersenyum lebar, “Mending kita sarapan dulu aja, yuk. Abis itu DVD marathon!”

“Sip!” Kedua sahabat itu bangun dari tempatnya dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah.

Bye-bye, Aryo. I promise I’ll try my best to not think about you anymore. I know you’re happy with somebody else and I’m not gonna ruin your happiness. Thank you for making my days so colorful and I’m glad I gotta know you even though I ended up getting hurt, batin Melisa sambil tersenyum kecil.

Yap, ia tidak menyesal pernah mengenal Aryo dan sempat dekat dengannya selama beberapa minggu. Aryo memang telah membuat hatinya sakit, tapi hal tersebut sama sekali tidak membuat Melisa menyesal. Mungkin hal ini harus dijadikan pelajaran agar nantinya tidak terjadi hal yang sama untuk kedua kalinya.

(THE END)

Related Quote: “The person behind your unexplained happiness is also the person behind your sadness.”